Petani Binaan MAJ Panen Raya Jagung Hingga 55 Ton di Lahan Seluas 6 Hektare

oleh
Petani Binaan MAJ Panen Raya Jagung Hingga 55 Ton di Lahan Seluas 6 Hektare

Bantenterkini.com – Kelompok-kelompok petani binaan Masyarakat Agribisnis Jagung (MAJ) Banten secara bergelombang mulai kembali panen. Kali ini salah seorang petani yang juga mantan Kepala Desa, Aryati, panen jagung di lahannya yang seluas total sekitar 6 hektare di Desa Cisauk Kabupaten Tangerang.

Dari lahan Aryati seluas 6Ha ini, menghasilkan produksi hingga mencapai 55ton jagung basah atau setara 35ton jagung kering atau setara rata-rata 7 ton per hektare. Menurut Aryati angka dari hasil produksi ini bukan yang pertama dicapainya. Sebelumnya, Aryati bahkan pernah panen hingga mencapai rata-rata 9 ton per hektare.

“Perawatannya sederhana saja. Pada masa awal tanam cukup rajin dipupuk dan lahan dijaga kebersihannya dari tanaman liar. Bibit yang baik kalau dirawat dengan baik pasti menghasilkan produksi yang baik,” kata dia ditemui di rumahnya, Jumat (23/6/2023).

Baca Juga:  Empat Pasangan Muda Digerebek Tengah Indehoi di Penginapan, Kondom Bekas Jadi Saksi

Terpisah, Sekretaris Jenderal (sekjen) MAJ Diah Indarti mengungkap bahwa angka panen produksi jagung milik Ibu Aryati sudah termasuk luar biasa. Sebab biasanya tanpa pendampingan petani hanya mampu memproduksi 4-5 ton jagung per hektare.

Baca Juga:  PLN Kembali Cetak Kinerja Keuangan Terbaik Sepanjang Sejarah

“Ibu Aryati ini merupakan salah satu petani kami yang hasil panennya selalu memuaskan. Beliau bahkan pernah mencapai angka panen hingga hampir mencapai 10 ton per hektarenya. Kuncinya adalah kesabaran dan ketelatenan,” beber Diah.

Sementara itu Ketua MAJ Banten Cepi Safrul Alam menjamin bila hasil panen Aryati kali ini sudah siap diserap. Bahkan, para calon pembeli sudah antre menunggu semua hasil produksi dikeringkan.

Baca Juga:  Sudah Kepung 16 Jam, Polisi Belum Tangkap Pelaku Pencabulan Santri di Ponpes Shiddiqiyyah

“Untuk panen kali ini harga satu kilojagung kering pipil sekitar Rp5.500 sedangkan harga jagung basah sekitar separonya. Semua perusahaan buyer sudah siap. Hanya jagungnya masih dalam proses pengeringan jadi belum bisa dijemput,” paparnya.

Semua koneksi simbiosis mutualisme ini, lanjut Cepi, merupakan salah satu tanggungjawab MAJ. Di mana perusahaan membutuhkan bahan baku untuk dapat terus berproduksi sementara para petani harus terus menaikkan kesejahteraan.

Tentang Penulis: Banten Terkini

Banten Terkini